•  
  • Perpustakaan IAIN Antasari
Senin, 01 Juni 2015 - 07:55:28 WITA
Seminar Jaringan Kerjasama Perpustakaan : Interoperabilitas dan Integritas Antarperpustakaan
Diposting oleh : Andi Irawan
Kategori: Perpustakaan - Dibaca: 2393 kali


Salemba, Jakarta—Sebanyak 25.728 perpustakaan tersebar di seluruh Indonesia. Jumlah yang luar biasa besar. Memang kualitas tiap perpustakaan tidak sama. Ada yang sangat modern dan lengkap, dan banyak pula yang sangat tradisional dan tidak lengkap. Dengan strategi dan implementasi yang tepat, semua ini bisa menjadi gerbang untuk menyebarkan informasi dan ilmu pengetahuan ke seluruh Indonesia.

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang terus berkembang menuntut adaptasi dari semua aspek kehidupan, termasuk dalam hal pelayanan perpustakaan. Latar belakang tersebut yang menjadi alasan Perpustakaan Nasional (Perpusnas) melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan layanan pada pemustaka, karena salah satu fungsi dari Perpusnas adalah sebagai pusat jejaring perpustakaan.

Indonesia One Search menjadi target kolektif di masa depan agar setiap masyarakat bisa mudah mengakses seluruh koleksi dari seluruh perpustakaan melalui satu pintu. “Program ini dimotori oleh Perpustakaan Nasional,” jelas Kepala Bidang Kerjasama dan Otomasi Perpusnas Joko Santoso pada Seminar Jaringan dan Kerja Sama Perpustakaan di Jakarta, (26/5).

Demi menyukseskan ‘Indonesia One Search’, Perpusnas selanjutnya menyusun bentuk kerja sama strategis ke dalam dua cara. Pertama, kerja sama kebijakan kelembagaan (penerapan standar, kebakuan, sistem yang menyangkut kesamaan dan keseragaman kebijakan, sistem, fungsi, dan kapasitas kelembagaan). Kedua, kerja sama teknis terkait dengan kegiatan substansial perpustakaan (pengembangan, pengolahan, layanan, pelestarian bahan perpustakaan, implementasi TIK, kajian dan publikasi bersama antarlembaga).

Oleh karena itu, upaya interoperabilitas dan integritas mutlak diperlukan. Interoperabilitas dan integritas dimaknai sebagai kemampuan berbagai ragam sistem yang ada di perpustakaan untuk dapat bekerja sama sehingga memiliki potensi dan kemampuan untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik.
 

Interoperabilitas dan integritas antarperpustakaan mencakup aspek-aspek sebagai berikut :

1. Aspek teknis, seperti penggunaan protokol terbuka yang berstandar, misalnya Open Archives Initiative – Protocol for Metadata Harvesting (OAI-PMH), protocol TCP-IP Z39.50 dan sebagainya untuk menukar data

2. Aspek semantik, seperti penggunaan kosakata terkendali, misal tajuk subjek dan thesaurus untuk memudahkan dan meningkatkan relevansi temu kembali informasi

3. Aspek kesepakatan bersama penggunaan standar bidang perpustakaan, kesediaan untuk berbagai sumber daya, kerja sama bidang pengembangan, pengolahan, layanan, dan preservasi bahan perpustakaan untuk meningkatkan sinergitas antarlembaga

4. Interoperabilitas dan integrasi data, misalnya standard metadata bibliografis, penyediaan data yang dapat diakses secara terbuka untuk meningkatkan peran perpustakaan, serta kesediaan berkontribusi pada Katalog Induk Nasional (KIN)
 

Interoperabilitas dan integrasi antarperpustakaan telah dikembangkan Perpusnas sejak 2008 melalui kegiatan e-library, khususnya lewat strategi integrasi. Hasilnya? Penggunaan standar metadata berbasis indoMARC terus meningkat yang memudahkan akses data koleksi perpustakaan mitra hingga ke kabupaten/kota yang mampu diintegrasikan dalam KIN dan BIN, dan akhirnya seluruh data terintegrasi ke dalam Katalog Induk Dunia (WordCat).

“Pada tahun 2015, strategi interoperabilitas mulai dilancarkan, dengan menargetkan kerja sama dengan 40 perpustakaan Perguruan Tinggi dan Khusus di Indonesia,” terang Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi Perpusnas Welmin S Ariningsih.

Sedangkan format data untuk pertukaran informasi bibliografi dikembangkan pada tahun 1960 oleh Library of Congress untuk mengkodekan informasi kartu katalog tercetak. Pertama kali diciptakan sebagai ANSI/NISO Standard Z39.2—salah satu standar pertama untuk teknologi informasi dan disebut sebagai informasi Interchange Format. “Pada Desember 2008, standar ini menjadi ISO 2709: 2008, papar Kepala Pusat Informasi dan Dokumentasi dari Badan Standarisasi Nasional Abdul Rahman Saleh.

 

Sumber: http://www.pnri.go.id/BeritaAdd.aspx?id=201



0 Komentar :