•  
  • Perpustakaan IAIN Antasari
» Sejarah


Sejarah Perpustakaan

Sejak resmi berdiri tanggal 20 Nopember 1964 M IAIN Antasari sudah mempunyai  perpustakaan. Pada saat awal perpustakaan termasuk salah satu bagian kesekretariatan dari Kantor Pusat IAIN Antasari. Sebagai perpustakaan rintisan tentu serba terbatas dari segi ruangan, koleksi, dan sumber daya saat itu. Namun, dengan keberadaan perpustakaan yang demikian mendorong pimpinan dan pengelola dari waktu ke waktu terus membenahi keadaannya agar lebih baik.

Sejak berdirinya Perpustakaan IAIN Antasari sampai saat ini sudah mengalami beberapa kali pergantian pimpinan. Secara periode dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Drs. Harun Al Rasyid (tahun 1964-1971)
2. Jamhari Utuh, BA (tahun 1971-1974)
3. M. Yusuf Ijam, BA (tahun 1974-1982)
4. Drs. H. M. Asy'ari, M.A (tahun 1982)
5. Drs. H. Husaini (tahun 1982-1983)
6. Drs. H. A. Kursani Abu (tahun 1983-1997)
7. Dra. Hj. Nurjannah Rianie (tahun 1997-2006)
8. Drs. H.M. Azmi (2007-Mei 2008)
9. Drs. Sukarni, M.Ag (Oktober 2008-2012)
10.Akhmad Syaikhu, S.Ag.,SS.,MSI (2012-Sekarang).

Orang pertama yang menangani perpustakaan adalah Bapak Drs. Harun Ar Rasyid, dosen lulusan Fakultas Syari'ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Awal mula berdirinya IAIN Antasari belum mempunyai gedung sendiri, sehingga sebuah ruangan kecil dijadikan tempat untuk menyelenggarakan kegiatan perpustakaan. 

Sehubungan dengan adanya tugas lain yang harus diemban Drs. Harun Ar Rasyid, maka pada tahun 1971 ditunjuklah Jamhari Utuh BA, Sarjana Muda lulusan Fakultas Syari'ah IAIN Antasari Banjarmasin sebagai kepala perpustakaan yang baru.

Baru pada tahun 1971, setelah IAIN menempati gedung sendiri di Jalan Jenderal A.Yani Km.4,5 Banjarmasin, perpustakaan mendapat tempat khusus satu ruangan yang luasnya 4x6 m. Dengan ruangan yang kecil ini sama sekali belum memungkinkan untuk memberikan pelayanan yang baik bagi para pengunjung. Dalam keadaan yang demikian administrasinya pun sederhana sekali, pengguna yang ingin meminjam buku hanya membuat bon pinjam dengan menyebutkan nama buku dan pengarangnya serta identitas peminjam. Pada saat itu pengembalian buku-buku tidak teratur, sehingga banyak buku yang hilang.

Dapat dibayangkan keadaan perpustakaan pada waktu itu, dengan administrasi yang sangat sederhana dan dengan ditangani hanya oleh satu orang, perpustakaan betul-betul belum dapat memenuhi persyaratan sebagai perpustakaan yang baik bagi sebuah perguruan tinggi.

Akhir tahun 1974 jabatan kepala perpustakaan diserahkan kepada M. Yusuf Ijam, BA, Kepala Seksi Kemahasiswaan dan Perpustakaan pada Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari Banjarmasin, hal ini dikarenakan Jamhari Utuh, BA kepala perpustakaan sebelumnya meninggal dunia. Sejak kepemimpinan Yusuf Ijam, dimulailah usaha-usaha untuk meningkatkan pelayanan sebagaimana mestinya. Tahun 1975, dengan penambahan pengelola sebanyak 5 orang, maka disusun struktur organisasi dan personalia perpustakaan yang terdiri dari 1 orang kepala, 1 orang bendahara dan 4 orang seksi.

Perkembangan perpustakaan yang makin meningkat dengan semakin bertambahnya koleksi dan jumlah pengunjung yang semakin banyak, maka perpustakaan dipindahkan ke ruang yang lebih besar yaitu gedung yang sebelumnya digunakan sebagai ruang olah raga. Ruangan ini luasnya 12 x 6 m. Kemudian setelah kantor-kantor fakultas menempati ruangan yang baru, maka perpustakaan dipindahkan lagi ke ruangan eks ketiga kantor-kantor fakultas tersebut. Walaupun masih belum memadai, namun untuk sementara dapat dipergunakan menampung para pengunjung yang terus meningkat.

Selain penguatan dibidang sarana prasarana, kualitas SDM juga terus ditingkatkan. Untuk menambah wawasan ilmu pengetahuan di bidang perpustakaan, maka pada tahun 1978 tiga orang diberikan kesempatan untuk mengikuti kursus dan penataran ilmu perpustakaan di Jakarta, yaitu Kepala Bagian dan dua orang staf, yaitu: Drs. M. Yusuf Ijam, Drs. H.A. Kursani Abu dan M. Zaini. BA. Sekembaimya 3 orang tersebut mulailah dibuat prosedur peminjaman koleksi perpustakaan seperti penggunaan kartu anggota perpustakaan, penomoran klasifikasi dan katalogisasi.

Dalam rangka peningkatan mutu pelayanan perpustakaan yang berkelanjutan, maka pada awal tahun 1978 dibangun sebuah gedung perpustakaan seluas 300 m2 yang diresmikan penggunaannya oleh Bapak Menteri Agama RI H. Alamsyah Ratu Prawiranegara pada Dies Natalis ke XIV IAIN Antasari tanggal 20 Juni 1978.

Seiring dengan ditempatinya gedung yang baru dan penambahan jumlah karyawan, maka disusun dan disempurnakan lagi struktur organisasi perpustakaan yang terdiri dari 1 orang kepala, 1 orang Tata Usaha, 2 orang Kasubbag yang membawahi beberapa urusan-urusan. Jumlah pegawai sampai pada akhir tahun 1979 sebanyak 9 orang ditambah 2 orang tenaga honorer. Sistem layanan yang digunakan pada waktu itu adalah sistem tertutup (close access). Pelayanan dengan sistem tertutup ini dipilih untuk beberapa lama sambil mempersiapkan sistem peminjaman model terbuka yang lebih mapan.

Pada tahun 1982 terjadi kekosongan posisi kepala perpustakaan, hal ini dikarenakan adanya tugas lain yang harus diemban oleh Drs. M. Yusuf Ijam. Untuk mengisi kekosongan pimpinan tersebut dijabat langsung oleh Bapak Drs. H. M. Asy'ari (Rektor IAIN Antasari saat itu) selama 6 bulan. Pada tahun yang sama diangkat  kepala perpustakaan yang baru, yaitu Bapak Drs. H. Husaini, dosen Fakultas Syari'ah IAIN Antasari Banjarmasin. Belum sampai satu tahun menjabat sebagai kepala perpustakaan, beliau terserang sakit yang cukup serius sehingga kepala perpustakaan menjadi lowong kembali.

Untuk mengisi kekosongan pimpinan perpustakaan, pada tahun 1983, diangkat Drs. H.A. Kursani Abu sebagai Pjs. Kepala Perpustakaan. Beliau adalah tenaga senior perpustakaan. Sejak kepemimpinan beliau, perpustakaan terus melanjutkan perbaikan dalam berbagai hal, terutama di bidang SDM. Setelah beliau memimpin perpustakaan, dalam tahun yang sama perpustakaan mendapat tambahan pegawai 4 orang, sehingga jumlah pegawai perpustakaan berjumlah 13 orang. Pada tahun 1984, beliau diangkat sebagai Pj. Kepala Perpustakaan, tahun 1985 perpustakaan mendapat tambahan pegawai sebanyak 2 orang lagi.

Di samping kuantitas, kualitas karyawan juga diperhatikan, penambahan jumlah karyawan harus diiringi dengan peningkatan kualitas mereka. Untuk itu, pada tahun 1986, diutuslah dua orang, yaitu: Drs. H.M. Azmi dan Gazali MK. BA mengikuti Pendidikan Peningkatan Mutu Perpustakaan IAIN se Indonesia Angkatan ke I di Jakarta, pada tahun 1987. Setelah itu dua orang lagi mengikuti Angkatan ke II, yaitu Drs. Kursani Abu (Pj. Kepala Perpustakaan) beserta 1 orang staf yakni Dra. Nurjannah Rianie. Pada tahun yang sama perpustakaan, mendapat tambahan 3 orang. Pada Pendidikan Peningkatan Mutu Perpustakaan Angkatan III, perpustakaan kembali mengirim utusan, yakni Samanan, BA untuk mengikutinya. Jadi saat itu di akhir tahun 1987 pegawai perpustakaan sudah berjumlah 18 orang.

Pembenahan berikutnya adalah dengan menambah almari katalog subjek dan almari titipan tas mahasiswa dan mahasiswi. Pada tahun 1988 bersamaan waktu pengiriman satu orang mengikuti Angkatan IV, dimulailah era baru sistem pelayanan terbuka, setelah melalui perjuangan dan pertimbangan yang sangat alot. Perubahan ini terutama dari cara penelusuran koleksi, di mana pada sistem palayanan tertutup, pustakawan lah yang aktif mencarikan buku yang ingin dipinjam atau dibaca pengguna, sedangkan pada sistem pelayanan terbutka, pengguna bebas untuk menelusur buku-buku yang diinginkannya.

Usaha lain yang dilakukan adalah memberikan kebebasan seluasnya kepada stafnya untuk mengikuti pendidikan, pertemuan, seminar di bidang ilmu perpustakaan baik yang diadakan di daerah maupun yang diadakan di luar daerah.

Dengan terobosan-terobosan dan prestasi yang telah dicapai, pada tahun 1989, Drs. Kursani Abu diangkat penuh sebagai Kepala Bagian Perpustakaan dengan SK. Menag Nomor: B. II/3/3319/1989.

Dampak dari pelayanan sistem terbuka menyebabkan ruangan terasa menjadi sempit oleh membludaknya pengunjung ditambah pertambahan koleksi perpustakaan yang setiap tahun terus bertambah sehingga gedung perpustakaan menjadi terasa sempit. Untuk mengantisipasi banyaknya para pengunjung sempat diterapkan sistem semi terbuka dimana para pengunjung diberi kesempatan untuk masuk beberapa jam. Pada tahun 1989 dibangun tambahan gedung 300 m2 dan diresmikan pemakaiannya tahun 1990, barulah perpustakaan benar benar dapat melaksanakan tugas dengan leluasa karena masing masing bagian sudah memiliki ruangan dan sejak saat inilah perpustakaan dapat menerapkan sistem terbuka secara penuh.

Perkembangan selanjutnya adalah terus meningkatkan pelayanan dengan SDM yang sudah mengikuti berbagai pendidikan perpustakaan hingga pada akhirnya diterapkan sistem komputerisasi perpustakaan. Dengan adanya kebijakan komputerisasi perpustakaan yang dipelopori oleh  Rektor IAIN Antasari Banjarmasin DR. H. Alfani Daud dimulai lagi babak baru sistem peminjaman dan pengolahan bahan pustaka. Untuk meningkatkan kualitas keterampilan di bidang komputerisasi, perpustakaan mengirim 3 orang karyawannya, Samanan, BA, Mukhdar, dan Rita Nahdiaty untuk mengikuti pelatihan komputer Aplikasi INSIS di Jakarta. Di samping itu, dilaksanakan pula pertemuan Manejerial Kepala-Kepala Perpustakaan seluruh IAIN di Indonesia yang memperjuangkan dan mempertahankan eksistensi Aplikasi INSIS dan hal-hal lain mengenai Perpustakaan.

Untuk menambah wawasan mengenai perpustakaan dan memandang kedepan bagaimana prediksi perpustakaan perguruan tinggi, Perpustakaan IAIN Antasari menjadi tuan rumah seminar nasional dengan tema "Meningkatkan Peranan Perpustakaan dan Pustakawan Menyongsong Tahun 2000" dengan pembicara utama Drs. Zulfikar Zein, MA dosen Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Seminar ini yang diikuti oleh wakil Perpustakaan yang ada di daerah dan lembaga pemerintah/swasta yang terkait. Dari hasil seminar dan pertemuan kepala-kepala perpustakaan IAIN se Indonesia telah banyak manfaat yang diambil, diantaranya pembuatan job-job description perpustakaan sehingga setiap langkah dan tindakan yang akan diambil selalu berdasarkan peraturan, maka pada tahun 1995 terbitlah SK Rektor yang mengatur peraturan-peraturan perpustakaan.

Dari sekilas mengenai perpustakaan IAIN Antasari, terlihat jelas bahwa telah banyak hal yang disumbangkan oleh Bapak Drs. H.A. Kursani Abu sehingga modernisasi perpustakaan benar-benar telah tercipta. Sebenarnya dalam era globalisasi ini perpustakaan masih memerlukan seorang pemimpin seperti beliau, tapi apa mau dikata masih ada tugas negara yang harus diemban yaitu sebagai anggota legislatif Dati II Kabupaten Banjar, sehingga pada tanggal 30 Juli 1997, jabatan kepala perpustakaan IAIN Antasari diserahkan kepada tenaga senior perpustakaan, yaitu Ibu Dra. Hj. Nurjannah Rianie yang pernah menyandang gelar pustakawan teladan.

Setelah dua periode memimpin perpustakaan 1997-2006, Ibu Dra. Hj. Nurjannah Rianie. Prestasi yang beliau lakukan adalah membangun kembali gedung perpustakaan yang mengalami kebakaran. Selain itu, pada kepemimpinan beliau dilakukan pengadaan Security Gate, sebuah sistem yang cukup canggih dalam rangka pengamanan koleksi. Beliau juga mengganti sistem informasi manajemen INSIS -dikarenakan beberapa kekurangan, menjadi sistem pelayanan aplikasi SIMPUS. Beliau digantikan oleh salah seorang pustakawan senior, yaitu Drs. H.M. Azmi. Beliau menjabat selama satu periode, yaitu tahun 2006 sampai dengan Mei 2008. Kepemimpinan beliau hanya sekitar satu setengah tahun karena memasuki usia maksimal jabatan eselon.

Sejak Oktober 2008-2012, perpustakaan dipimpin oleh  Drs. Sukarni, M.Ag, salah seorang dosen Fakultas Syariah IAIN Antasari. Beberapa prestasi beliau adalah membuat program pelestarian khazanah lokal kalimantan (local content), di mana karya-karya Ulama Banjar dikumpulkan, diolah dan dilayankan bagi pemustaka Perpustakaan Pusat IAIN Antasari. Beliau juga berusaha untuk mengoptimalisasi pengadaan koleksi perpustakaan dengan mencari koleksi-koleksi yang dibutuhkan para pemustaka langsung ke distributor, baik di Yogyakarta, Malang, Surabaya, Bandung dan Jakarta. Pada tahun 2011, untuk meningkatkan layanan, dilakukan imigrasi sistem layanan SIMPUS menjadi SLIMS (Senayan Library Information Management System).

Pada tahun 2012, dikarenakan terpilih sebagai Dekan Fakultas Syariah, maka beliau digantikan oleh Akhmad Syaikhu, S.Ag., S.S., M.SI., salah satu peserta pendidikan ikatan dinas perpustakaan di Universitas Indonesia. Ada tiga hal yang menjadi fokus perhatian beliau untuk pengembangan perpustakaan, pertama beliau sedang berusaha untuk mengintegrasikan seluruh sistem informasi perpustakaan, baik institut, fakultas-fakultas dan pascasarjana menjadi suatu layanan terpadu. Kedua, pembangunan website Pusat UPT Perpustakaan IAIN Antasari, Ketiga, Program digitalisisi perpustakaan terutama untuk karya-karya yang telah dihasilkan oleh lembaga IAIN Antasari sebagai Institusional Repository.  Untuk mendukung tiga program unggulan itu beliau telah menggagas dilaksanakannya "pelatihan digitalisasi koleksi bagi karyawan Perpustakaan IAIN Antasari (2013)", mewujudkan pembangunan "Perpustakaan Digital Pusat UPT IAIN Antasari (2014)". Dengan program tersebut hasilnya sudah dapat dirasakan bahwa katalog perpustakaan sudah dapat diakses melalui jaringan internet, bahkan koleksi digital dari karya-karya skripsi, tesis, disertasi, karya penelitian, artikel jurnal sudah memungkinkan pula diakses melalui jaringan internet dan tentu saja intranet. Dalam waktu dekat beliau mengharapkan agar di setiap Fakultas dan Jurusan dapat dilakukan sistem pengelolaan perpustakaan dengan otomasi terpadu. Di era kepemimpinan Akhmad Syaikhu, salah satu rintisan yang beliau gagas adalah meningkatkan peran profesional pustakawan untuk membantu meningkatkan kompetensi para pustakawan di lingkungan Kementerian Agama Kalimantan Selatan melalui kegiatan pelatihan bagi guru pustakawan. Keberhasilan mengembangkan perpustakaan digital dan layanan perpustakaan berbasis jaringan internet adalah beliau memadukan antara sumber daya pustakawan yang ahli konten dan tenaga ahli IT yang ahli dalam mengembangkan jaringan. Untuk sebuah perpustakaan modern kedua sumber daya ahli tidak dapat dipisahkan.